Perayaan Ulang Tahun

anna-vander-stel-74775.jpg

Tahun ini genap 30 tahun. Seperti biasa, Bass menyetel lagu yang sama. Nada itu sudah dihafal di luar kepala. Bahkan hatinya sudah menyatu dengan lagu. Bait demi bait iya nyanyikan, namun tetap bibir Bass tak bersuara. Hanya seperti gercapan, seperti orang mengunyah.

Di tengah meja, kue ulang tahun lengkap dengan lilin telah menunggu untuk ditiup. Bass seperti menunggu lagu ulang tahunnya selesai. Seperti biasa, ia memejamkan mata. Berdoa. Berharap. Tepat lagu itu berhenti, angin berhebus dari mulut Bass. Lilin itu kemudian mati. Tidak ada tepuk tangan. Namun, Bass kembali menyetel lagu itu untuk kedua kalinya.

Pada bait terakhir sebelum lagu selesai, Bass menengok ke sebuah pintu di belakang. Namun, tak seorang pun yang datang. Sepi.

—–

31 tahun. Bass kembali menyetel lagu yang sama. Kali ini Bass memakai setelan jas. Seperti biasa, Bass sudah siap dengan kue ulang tahun. Kue itu berdiameter 30 cm, lebih kecil dari kue tahun lalu. Sedangkan lilinnya tak begitu banyak, hanya 2 buah saja. Bass menantikan bait terakhir lagunya. Sebelum lagu itu berakhir, tiba-tiba saja satu lilin mati. Hembusan angin tak begitu kencang namun angin itu bisa mematikan lilinnya. Bass tak sedih, justru simpul senyum yang tergambar diwajahnya.

“Akhirnya datang juga.”

Disekeliling Bass tidak ada seorang pun. Tak lama kemudian, satu lilin lain mati. Padahal Bass tak meniupnya. Bass kembali tersenyum.

“Dan, akhirnya lengkap juga.”

Bass seperti tengah berbicara dengan seseorang. Namun, didepannya hanya terdapat kue ulang tahun.

“Terima kasih, sudah datang, Ma, Ka.”

Bass menangis saat dihadapannya tergambar tanda cinta dari asap lilin itu.

“Mama, Kaka. Bass akan selalu merayakan ulang tahun dengan perayaan yang sama. Bass akan selalu menanti kedatangan kalian tiap tahunnya.”

Bass berjalan menuju pintu, kemudian tak berapa lama angin berhembus menuju keluar pintu. Bass menutupnya sambil melambaikan tangan.

“Sampai jumpa di perayaan ulang tahun selanjutnya.”

Advertisements

Kemana hendak mengadu

kemanakah harus mengadu ? pun raga ini seperti dihujam batuan besar

kemanakah hendak mengadu? sedangkan mulut ini tertusuk ribuan paku 

kemanakah hendak mengadu? walaupun seluruh jiwa telah diserahkan tak satupun cinta itu didapat 

kemanakah hendak mengadu? hanya raga ini yang tak bisa beralih dan tak menemukan cinta 

kemanakah hendak mengadu?