Cinta dalam hujan

photo-1432836431433-925d3cc0a5cd

Mungkin saja, Aku cinta kamu. Benar dari hati, bukan karena nafsu ataupun emosi yang meluap-luap atau bahkan karena aku membutuhkan pelampisan sifat setan yang ada di dalam diri. Bukan, Aku benar tulus mencintaimu.

Aku berjalan menuju taman dekat rumah. Di tempat inilah kita bertemu. Kamu basah karena terkena air hujan yang mengalir deras, sementara Aku melihatmu dengan serius. Aku khawatir apabila kedinginan dan mendadak terkena flu. Segera saja aku memayungimu, sementara air hujan kubiarkan membelai tubuh yang puas terisi oleh cinta. Walaupun aku tahu, cinta ini belum tentu terbalas, namun aku yakin cinta ini lebih dari cukup. Bahkan, rasa seperti ini tak pernah hadir selama hidupku, jadi Tuhan biarkan aku merasakannya beberapa saat saja.

 “Kau tahu, payung ini tak dapat menahan laju hujan lebat ini?”

Kamu saat itu mengucapkan beberapa kata. Aku sangat senang, akhirnya kamu menganggap aku ada untuk beberapa saat.

“Iya, aku tahu, tapi setidaknya ini dapat menahan air membahasi tubuhmu yang sudah kuyup.”

Kamu tertawa kecil. Rambut panjangmu yang lepek oleh hujan juga bergoyang-goyang karena tawa ikut mengerakannya. Aku juga ikut tertawa.

“Terima kasih. Aku harus pergi. Ambilah payung ini.”

Kamu segera pergi, kemudian berlari kencang. Hujan seakan menelanmu pelan namun pasti.

Aku memandangi tempatmu berteduh. Masih sama, tak ada yang berubah sedikit pun. Hanya daun-daun jatuh saja serta cat yang kian usam karena tersiram air hujan beberapa tahun ini. Jika dihitung dengan angka, mungkin genap 5 tahun lalu, aku dan kamu berjumpa di taman ini. Namun, aku masih mengingat semua detail kejadian dengan jelas.

Air hujan kembali menetes. Kali ini hanya hujan ringan saja, bukan hujan lebat seperti kita bertemu. Namun, rasa yang bisa disebut dengan cinta ini masih mencari, siapa gerangan dirimu.

photo-1428908200541-d395094cc816

Bayangan seorang berlari kemudian tampak nyata dihadapanku. Sosok itu adalah kamu yang telah lama aku nanti. Rambut panjang yang terurai dahulu, kini dipotong sebahu saja. Mata bulat dan gigi tersusun rapi masih seperti kamu yang dulu.

“Hai, kita berjumpa lagi.”

Aku mengulurkan tangan sambil memayungkan payung yang berukuran cukup besar.

“Maaf, kamu siapa?”

Aku terdiam. Kemudian, tak menyerah begitu saja.

“Kita pernah berjumpa dalam hujan.”

“Hujan? Berjumpa? Kamu ini aneh. Mungkin kau salah orang atau kau bertemu dengan saudara kembarku bernama Lina.”

Suara petir bergemuruh di angkasa. Sosok itu kemudian berlari kencang menembus hujan. Kemudian lenyap tak terlihat ditelan hujan.

Sosok yang sama 5 tahun lalu, ternyata hanya sekejap saja berjumpa dan kemudian pergi. Tapi, aku bersyukur bisa merasakan cinta sesaat lalu yang selalu disertai dengan hujan.

“Hai, bolehkah ikut aku berteduh?”

Seorang berambut panjang dengan mata bulat serta giginya yang tersusun rapi tepat dihadapanku. Mungkin, inilah yang dinamakan pertemuan dan cinta sesaat dalam suasana hujan.

“Hai, silahkan pakai payung ini saja?”

Aku tersenyum. Mungkin ini saat yang tepat untuk menyatakan cinta dalam hujan.

Advertisements

Arti Bahagia

photo-1446161543652-83eaa65fddab (1)

“Apa arti sebuah kebahagian bagimu? ”

Seseorang yang tak dikenal di sebelahku tiba-tiba bertanya.

Aku hanya diam. Sejenak menerawang.

“Apakah kamu bahagia jika orang lain menderita?”

Aku terdiam.

“Apakah kamu merasakah kebahagiaan, apabila waktumu hanya untuk orang lain, lantas tak ada satupun waktu untuk dirimu sendiri?”

Tidak ada kata-kata lagi dari lidahku. Hanya beku dan kelu.

“Kemudian, apakah kamu bahagia, jika keluargamu yang jauh disana hanya dapat menjumpaimu setahun sekali?”

Air mata ini kemudian tak tertahan.

“Lantas, apa arti kebahagian ini? Uang? Pamor? Teman?”

Kemudian, ia memberiku beberapa lembar tisu. Dan kemudian pergi meninggalkanku dengan tanda tanya tentang arti kebahagian sesungguhnya.

Sepotong Kata

alejandroescamilla-book

Menarik selimut, kemudian merindukan mimpi pada satu menit ke menit, namun urung. Kemudian kembali menatap layar, hanya kosong. Tak ada kata-kata yang muncul, hanya siul menemai pagi dini hari yang sunyi.

Otak mulai menemukan kata, hanya satu kata. Bahkan bisa dikatakan hanya sepotong, belum genap jika disebut kata. Hanya A dan K. Seperti sebuah inisaial nama, namun ternyata bukan, hanya ilusi semata.

Pagi dini hari makin melarut dan menampakan cahaya emasnya, bahkan ayam pun ikut bernyanyi dengan irama yang datar, sedatar mata ini yang masih menatap layar kosong dan hanya terdapat satu kata yang utuh. AKU.

Irisan Hati

Adakah yang mengalahkan Cinta? Aku bertanya sesering mungkin. Adakah yang bisa mengalahkan Cinta? Aku bertanya lagi. Adakah yang bisa meruntuhkan Cinta? Kali ini aku menatap dalam surat yang telah usang.

Aku berjalan menyusuri jembatan yang dibuat Belanda 200 tahun lalu. Lalu lalang kendaraan masih menyita jutaan mata yang memandang.

Adakah yang bisa menbuat Cinta menjadi benci? Aku lalu bertanya dalam. Aku berhenti. Menatap lurus sungai yang membludak airnya walau tak hujan.Sementara seorang pengemis memungut sampah yang tak jauh dari sungai.

Adakah yang bisa mengantikan Cintanya? Aku bertanya untuk terakhir kalinya. Namun, tak jua kutemukan jawaban.

————
Tak jauh dari sungai, aku berhenti sejenak. Sekali lagi aku membuka surat lusuh itu.

“Anakku tersayang, maafkan ibu yang membuangmu. Ibumu tak sangup merawatmu nak. Biarlah orang kaya ini yang akan membuat hidupmu lebih sejahtera. Sekali lagi maafkan ibumu, nak.”

Air mata itu tak terbendung. Aku menangis. Ingin rasanya aku berteriak. Kenapa ibu harus meninggalkan aku sendiri disini. Kenapa? Apakah kau tak cinta padaku? dan apakah harta bisa menggantikan kasih sayang mu, Ibu?

Dari kejauhan, seorang ibu yang renta, memunggut sampah. Tubuhnya yang tak muda lagi seakan tak mampu ditopang oleh kakinya.
“Tuhan, maafkan aku yang telah membuang karunia dariMu,” Air matanya juga tak terbendung.

Aku Sakau

Maukah menikah denganku? Sejenak kata-kata itu berkelibat di atas kepalaku. Ya, kata-kata itu yang sering ia ucapkan. Entahlah, namun aku seakan tak mampu meredamnya. Aku cinta dia, tapi… ada sesuatu yang tak bisa aku jelaskan sekarang.

Aku merasakan sensasi luar biasa ketika jarum itu menusuk tanganku, sepertinya awan dan matahari itu tidak panas dan mendadak dingin mengelayuti tubuh ini. Aku menggigil, dan terbang entah ke mana, mungkin saja sudah di alam baka. Ah, ternyata aku masih terbaring di depan TV yang masih menyala dengan adegan seorang laki-laki bertelanjang dada sedang meninju sebuah kaca, ia emosi rupanya.

Kilatan asa dan kata-katanya masih menusuk ditelingaku, ah aku tak mau mendengarnya. Aku bosan, aku muak. Aku kembali tenggelam dalam hujan dan banjir. Aku terhanyut arus, namun akau merasakan tubuhku seakan ringan. Aku diam, dan menggigil tajam.

“Maafkan aku, Hen.” Aku hanya dapat mengatakan kata itu saja.
Aku lalu pergi, diikuti seorang wanita yang setia. Aku merangkulnya manja. Aku memeluknya. Dari kejauhan, Hendi menatapku. Kemudian ia diam. Diteguknya gelas demi gelas tuak itu. Ia terjatuh. Ia mabuk.

Aku masih merangkulnya mesra. Kali ini aku berada di rumah, dan kami terduduk di sofa. Ah, aku sakau. Aku bebas dan terbang lepas tak ada beban. Aku tak harus menikah dengan Hendra. Kemudian, wanita itu memelukku yang juga seorang wanita. Aku kembali sakau, Ah….

Santi

Lantai 18 ini terasa begitu tinggi. Aku menatap ke bawah. Memang tinggi. Aku mengintip dari balik jendela kantorku.

“Halo!”
“Yang, aku nggak tahu pulang jam berapa? Kerjaan masih numpuk nih.”
“Yah, sayang. Katanya mau makan malam bareng?”
“Abis gimana donk. Udah deadline.kerjaan numpuk nih”
“Ya dah, aku tunggu deh. Perlu jemputan nggak?”
“Nggak usah deh. Aku naik taksi aja.”

Aku menatap laptop dalam. Rasanya sudah aku periksa berulang-ulang angka ini. Dan, memang sudah fix. Aku segera bergegas naik ke atas. Aku tekan tombol 25. Lantai paling atas gedung ini. Lift berhenti diangka 25. Aku bergegas keluar. Suasana begitu hening. Aku menuju kearah luar menuju tangga dan keluar.

Sesosok tegap berada di sudut. Aku mendekatinya.
“Sudah lama?” Aku bertanya
“Baru aja.”
Aku memeluknya erat. Dia menghisap dalam rokok, kemudian dia semburkan asapnya. Aku makin memeluknya erat. Dia menatapku dalam.

Drrrt….Drttttt…..

Handphone ku bergetar… Kulihat nama dalam ponsel itu bertuliskan “Santi”. Aku terdiam. Dia makin erat memeluku, sementara langit malam begitu senyap tak bertabur dengan bintang.

Kenangan

“ Huh!” Orang itu mengucapkan kata sambil menatap kebawah gedung . Sementara lalu lalang kendaraan masih menemaninya.

“ Kenapa?”

“Gak tau kenapa, tapi gue selalu kayak gini terus. Gak maju, tapi malah mundur pastinya,” Dia mendesah panjang. Seakan beban beratnya masih hinggap di benaknya.

“ Gue pulang ya. Choky dah jemput.”

“ Oke, ati-ati ya.”

Dia menatap lampu yang mulai redup di jalanan. Secangkir kopi dan rokok mengepul menemaninya. Sekilas kenangan muncul di benaknya. kenangan yang tak mungkin ia lupakan. kenangan yang sungguh menyiksa batin.

Didekat orang yang dia sukai adalah saat terindah. namun, segalanya berubah, ketika sebuah undangan merah jambu itu tergeletak di bawah pintu kamar.

Dia habiskan kopi terakhir, dan bergegas keluar dari Cafe yang tak jauh dari kantornya.

—-

“Tuhan, andaikan kau pertemuakan aku dengannya, aku sungguh tak sanggup. Aku sungguh mencintainya. Namun, rasanya untuk kebahagiannya, aku rela untuk memendam semua rasa yang ada, dan melupakan seluruh kenangan yang masih ada dikepala, ” Dia mengeluh panjang. Air mata yang tak tertahan membanjiri pipinya, membahashi undangan merah jambu yang sudah lapuk dimakan usia.