Puisi dalam hujan

 

photo-1417640712331-47f5ff77ce29

 

Hujan itu menyibak tirai lama

Bukan karena luka

tapi karena tawa dan canda

selalu ada dalam sketsa

 

Hujan itu membuka mata hati

Bukan karena iri dengki

tapi karena cerita sendiri

selalu ada rasa dan karunia ilahi

 

Hujan itu menutup benci

Bukan karena amarah dan caci

tapi karena ketulusan hati

selalu ada ucapan terima kasih untuk cinta

 

Terima kasih karena telah hadir dalam puisi ini

puisi dalam hujan

yang mendendangkan mimpi kekal nan abadi

Cinta dalam hujan

photo-1432836431433-925d3cc0a5cd

Mungkin saja, Aku cinta kamu. Benar dari hati, bukan karena nafsu ataupun emosi yang meluap-luap atau bahkan karena aku membutuhkan pelampisan sifat setan yang ada di dalam diri. Bukan, Aku benar tulus mencintaimu.

Aku berjalan menuju taman dekat rumah. Di tempat inilah kita bertemu. Kamu basah karena terkena air hujan yang mengalir deras, sementara Aku melihatmu dengan serius. Aku khawatir apabila kedinginan dan mendadak terkena flu. Segera saja aku memayungimu, sementara air hujan kubiarkan membelai tubuh yang puas terisi oleh cinta. Walaupun aku tahu, cinta ini belum tentu terbalas, namun aku yakin cinta ini lebih dari cukup. Bahkan, rasa seperti ini tak pernah hadir selama hidupku, jadi Tuhan biarkan aku merasakannya beberapa saat saja.

 “Kau tahu, payung ini tak dapat menahan laju hujan lebat ini?”

Kamu saat itu mengucapkan beberapa kata. Aku sangat senang, akhirnya kamu menganggap aku ada untuk beberapa saat.

“Iya, aku tahu, tapi setidaknya ini dapat menahan air membahasi tubuhmu yang sudah kuyup.”

Kamu tertawa kecil. Rambut panjangmu yang lepek oleh hujan juga bergoyang-goyang karena tawa ikut mengerakannya. Aku juga ikut tertawa.

“Terima kasih. Aku harus pergi. Ambilah payung ini.”

Kamu segera pergi, kemudian berlari kencang. Hujan seakan menelanmu pelan namun pasti.

Aku memandangi tempatmu berteduh. Masih sama, tak ada yang berubah sedikit pun. Hanya daun-daun jatuh saja serta cat yang kian usam karena tersiram air hujan beberapa tahun ini. Jika dihitung dengan angka, mungkin genap 5 tahun lalu, aku dan kamu berjumpa di taman ini. Namun, aku masih mengingat semua detail kejadian dengan jelas.

Air hujan kembali menetes. Kali ini hanya hujan ringan saja, bukan hujan lebat seperti kita bertemu. Namun, rasa yang bisa disebut dengan cinta ini masih mencari, siapa gerangan dirimu.

photo-1428908200541-d395094cc816

Bayangan seorang berlari kemudian tampak nyata dihadapanku. Sosok itu adalah kamu yang telah lama aku nanti. Rambut panjang yang terurai dahulu, kini dipotong sebahu saja. Mata bulat dan gigi tersusun rapi masih seperti kamu yang dulu.

“Hai, kita berjumpa lagi.”

Aku mengulurkan tangan sambil memayungkan payung yang berukuran cukup besar.

“Maaf, kamu siapa?”

Aku terdiam. Kemudian, tak menyerah begitu saja.

“Kita pernah berjumpa dalam hujan.”

“Hujan? Berjumpa? Kamu ini aneh. Mungkin kau salah orang atau kau bertemu dengan saudara kembarku bernama Lina.”

Suara petir bergemuruh di angkasa. Sosok itu kemudian berlari kencang menembus hujan. Kemudian lenyap tak terlihat ditelan hujan.

Sosok yang sama 5 tahun lalu, ternyata hanya sekejap saja berjumpa dan kemudian pergi. Tapi, aku bersyukur bisa merasakan cinta sesaat lalu yang selalu disertai dengan hujan.

“Hai, bolehkah ikut aku berteduh?”

Seorang berambut panjang dengan mata bulat serta giginya yang tersusun rapi tepat dihadapanku. Mungkin, inilah yang dinamakan pertemuan dan cinta sesaat dalam suasana hujan.

“Hai, silahkan pakai payung ini saja?”

Aku tersenyum. Mungkin ini saat yang tepat untuk menyatakan cinta dalam hujan.

Arti Bahagia

photo-1446161543652-83eaa65fddab (1)

“Apa arti sebuah kebahagian bagimu? ”

Seseorang yang tak dikenal di sebelahku tiba-tiba bertanya.

Aku hanya diam. Sejenak menerawang.

“Apakah kamu bahagia jika orang lain menderita?”

Aku terdiam.

“Apakah kamu merasakah kebahagiaan, apabila waktumu hanya untuk orang lain, lantas tak ada satupun waktu untuk dirimu sendiri?”

Tidak ada kata-kata lagi dari lidahku. Hanya beku dan kelu.

“Kemudian, apakah kamu bahagia, jika keluargamu yang jauh disana hanya dapat menjumpaimu setahun sekali?”

Air mata ini kemudian tak tertahan.

“Lantas, apa arti kebahagian ini? Uang? Pamor? Teman?”

Kemudian, ia memberiku beberapa lembar tisu. Dan kemudian pergi meninggalkanku dengan tanda tanya tentang arti kebahagian sesungguhnya.