Sepotong Kata

alejandroescamilla-book

Menarik selimut, kemudian merindukan mimpi pada satu menit ke menit, namun urung. Kemudian kembali menatap layar, hanya kosong. Tak ada kata-kata yang muncul, hanya siul menemai pagi dini hari yang sunyi.

Otak mulai menemukan kata, hanya satu kata. Bahkan bisa dikatakan hanya sepotong, belum genap jika disebut kata. Hanya A dan K. Seperti sebuah inisaial nama, namun ternyata bukan, hanya ilusi semata.

Pagi dini hari makin melarut dan menampakan cahaya emasnya, bahkan ayam pun ikut bernyanyi dengan irama yang datar, sedatar mata ini yang masih menatap layar kosong dan hanya terdapat satu kata yang utuh. AKU.

Teori Kopi (3) : Ekspresso

color-correct-coffee

Aku itu bagai Espresso, sebuah proses pembuatan kopi yang hanya digiling dan disajikan dengan cepat kepelanggan yang membutuhkan sebuah kenikmatan tersendiri. Aku hanya sebuah kesederhanaan. Karena hanya dengan pemrosesan yang cepat aku dapat dihasilkan.

Namun, campuran yang lebih dari enam ratus komponen itu membuatku tidak sesederhana yang dibayangkan. Bahkan cenderung membuat semua yang meminumku akan terasa sangat membutuhkanku pada setiap saat. Aku telah larut dalam darah mereka. Aku telah terekam dalam memori mereka. Aku telah berada dalam keseharian mereka. Ya. Aku sangat dibutuhkan.

Mentari itu bisa juga turut andil dalam proses pembuatanku. Aku ditanam kemudian di panen. Dalam proses pertumbuhan inilah mentari turut andil. Demikian juga mahluk bumi lainnya. Banyak yang membantu dalam proses ini. Aku juga tak menghitung seberasa sering aku dipindah tangankan sehingga aku kini berada ditengah sebuah cangkir. Dan siap untuk dinikmati.

Aku tahu bagaimana rasanya menikmati setiap aromaku. Aku tahu bagaimana bergairahnya hidup seseorang bilang tengah menghirup aromaku. Kemudian meminumnya. Aku merasakan kebahagian tersendiri.

Sensasinya Espresso itu bagai menikmati indahnya malam pertama. Mungki ini terlalu lebay, namun sensasinya memang hampir seperti itu. Hampir. Bukan langsung seperti itu.

Kalau saja, Espresso ini dapat dijadikan sebuah perhiasan, tentu saja layaknya diamond yang tak ternilai harganya. Bisa beratus-ratus bahkan beribu-ribu orang atau mungkin berjuta-juta orang akan mengejar Espresso ini. Namun, aku itu sederhana. Lagi-lagi aku hanya bisa merendah. Hanya bisa meyakinkan diri bahwa yang sederhana itu belum tentu akan sesederhana rasa ataupun aromanya.

Lagi-lagi ini masalah selera yang harus ditanyakan satu-satu pada orang-orang yang telah meminumnya. Mungkin saja, aku harus merelakan kalau ada orang yang mencaci rasaku. Aku harus bisa terima. Karena aku ini sederhana. Namun, tak sesederhana yang dipikirkan. Aku memiliki komponen yang beragam. Bisa saja salah satu komponen ini tak bisa berkerja secara maksimal sehingga kurang menyuguhkan rasa yang sesungguhnya. Iya rasa yang sesungguhnya.

***

Namaku Alvin Kurniawan. Aku itu sederhana. Sesederhana minuman yang aku minum sekarang. Espresso. Bagiku, sederhana lebih berharga daripada terkesan mewah tapi tak memiliki arti secara mendalam.

Pekerjaanku pelayan kafe. Sebuah kafe di daerah Sabang yang ramai akan lalu lalang manusia yang haus akan sebuah kepastian hidup.

Namun, yang pasti prinsip sederhana yang bisa didapati dari berjalannya waktu akan membuat hidup lebih bermakna dan lebih berharga.

Kapankah aku merasakan kebahagian? Jawabannya mungkin dua atau tiga tahun yang lalu. Saat aku wisuda dan lulus dari perguruan tinggi. Namun, itu hanya sementara. Dunia fana pun akhirnya tiba dengan sangat cepat. Bagai mencari jarum dalam jeramih. Aku mencari pekerjaan kesana-kemari. Dan hasilnya nihil.

Aku menikmati perkerjaanku sekarang. Jarang sekali mengeluh. Seperti bermain pada padang yang luas dan tak terbatas. Aku bernyanyi riang, tidur diatas karpet rumput yang sejuk, serta merajut mimpi dengan awan-awan yang berawark diatas serasa awan itu pun bergembira karena aku merasakan hal yang sama. Ah, indah dan lega.

***

Aku mengamati wanita yang tengah duduk dimeja nomor 13 itu dengan seksama. Wanita itu tampak menikmati ramuan kopi hitamnya yang digiling langsung dan disajikan dengan takaran air panas dan bubuk kopi gilling tersebut telah sempurna dan lebih halus dari yang dibayangkan.

“Mba, bagaimana dengan kopi kami?”

Aku iseng menanyakan kepada wanita itu. Aku hanya ingin tahu saja bagaimana kopi buatanku yang memang digiling dengan sangat detail dan tak melebihi takaran yang dianjurkan. Dan, air panaspun harus bersuhu minimal 78 derajat selsius. Memang itu takaran yang pas dan mantap.

Wanita itu tak mendengarkan apa yang aku ucapkan. Mungkin karena asyik dengan gadgetnya sendiri.

“Mba, halo.”

Aku mencoba mengerakan tanganku. Mengalihkan perhatiannya. Dan, ternyata berhasil juga.

“Iya mas?”

“Bagaimana dengan rasa kopinya?”

Wanita itu terdiam sejenak. Mungkin sedang mencerna apa yang baru saja aku tanyakan kepadanya.

“Bagaimana mba? Kopinya?”

“Maksud mas, kopi hitamnya.”

“Iya bagaimana rasanya?”

“Enak, dan datar mas. Seperti kopi hitam biasa namun memiliki aroma yang sedap.”

“Maksudnya datar?”

“Mas nggak tahu ya, kalau kopi hitam itu seperti kopi yang tak berasa dan tak berkomponen, hanya ada sesuatu saja yang menjadikan kopi ini enak, yaitu keaslian kopinya. Selain itu hanya datar saja.”

Wanita itu menjelaskan panjang lebar tentang arti kopi hitam.

Mungkin ini yang dinamakan sebuah kenyataan bahwa sebuah kopi hitam bisa dikatakan enak karena hanya memiliki rasa kopinya saja, tanpa ditambahkan dengan campuran lain seperti Espresso ataupun Cappucino.

***

“Sayang, aku kekampus dulu ya?”

Suara dari balik telepon itu mengugah nuraniku. Dia jelita. Kami baru jadian beberapa bulan lalu. Dan, kemudian, beberapa hari lalu, Rina, sahabatnya juga mengodaku. Aku jadi bingung. Apa yang terjadi.

“Iya sayang, kamu hati-hati.”

Love you.”

Love you, too.”

Ponsel itu kemudian mati.

Aku bingung sekali. Apa yang sebenarnya terjadi. Dua sahabat, saling memperebutkanku. Aku kan tidak istimewa. Aku hanya seorang sederhana.

Namun, entahlah, aku akan putuskan keduanya saja. Caranya dengan memperlihatkan kemesraanku dengan wanita lain kepada keduanya.

***

Rina memanggilku dengan senyuman yang tak biasa. Lalu dia bercerita tentang sesuatu yang melanda jelita, kekasihku. Namun, mungkin sebentar lagi bukan kekasihku.

Aku turuti saja permintaan Rina. Karena memang ini bagian dari rencanaku yang bisa saja akan berjalan mulus tanpa adanya sebuah pertikaian di akhir ceritanya.

***

Sebelum Jelita datang, aku sudah bermesraan dengan Rina. Aku terus melakukannya, karena penjaga parkir telah mengabariku bahwa Jelita telah datang. Aku tambah mempererat rangkulan ketubuh Rina. Aku menikmatinya sebagai bagian dari skenario yang telah aku susun sendiri.

***

“Sayang, aku ngga jadi ke kafe. Aku ada urusan mendadak.”

“Sayang, aku tahu kamu telah melihat kami kan?”

“Maksudmu yang?’

“Aku tahu dari seseorang, dan aku memang sengaja berbuat ini.”

“Kamu jahat. Kamu sadis.”

“Lalu, apa kabar janin yang berada dikandunganmu itu?”

Tidak ada jawaban. Hanya suara deruan mobil yang melaju kemudian terdengar suara yang keras seperti benturan.

Aku hanya terdiam. Sebenarnya aku juga sudah punya kekasih Ta. Namun, kau tak perlu tahu siapa kekasihku. Karena kekasihku sebenarnya memiliki ciri-ciri yang sama denganmu. Sama persis. Dan aku tak tak dapat melupakannya sampai saat ini. Bahkan dia selalu hadir disisiku hingga detik ini.

***

“Ta, kamu masih disini?”

Aku menyapa Jelita Anwar, yang telah berada dialam yang berbeda denganku saat ini. Namun ia masih setia sampai saat ini.

“Kamu masih terlihat cantik.”

Aku berbicara dihadapan kursi kosong yang sengaja aku sediakan buatnya. Kekasih hatiku yang sederhana. Sesederhana dua cangkir Espresso yang aku sajikan untukku dan untuknya.

***

Teori Kopi (2) : Cappucino

photo-1445883791079-421522d11f18

Hidup ini tak begitu indah. Hidup ini tak begitu adil. Namun, apabila ditemani seorang sahabat pastinya banyak perbedaan yang terasa. Hidup bisa lebih berwarna seperti pelangi yang mengeluarkan warna merah, hijau, kuning, jingga, biru, nila dan unggu. Rasanya warna itu seakan bermuara pada satu sudut ditempat ini. Warna-warni. Canti sekali.

Dulu ketika aku kecil, aku sangat suka bermain dipadang rumput yang hijau dan membayangkan kalau ada pelangi yang muncul diatas sana. Kadang kala, aku bersama kakak bermain istana dan isinya serta menunggu pelangi itu muncul dengan seketika.

“Mana pelangi itu Ka?”

“Pasti akan muncul pelangi itu, sabarlah Na.”

Kemudian aku berlari-lari mengikuti kemana arah angin. Dan kemudian diikuti dengan langkah tergopoh-gopoh kakakku yang mengikutiku dari kejauhan. Aku berlari jauh dari padang rumput itu kemudian menghilang bagai ditelan bumi. Aku menemukan tempat bersembunyi. Sepi dan sunyi. Aku menikmatinya. Nyaman sekali. Rasanya tempat itu, memang dikhususkan untukku menguraikan segala rasa. Bahkan rasa sakit yang selalu hinggap dipernafasan itu pun kini pelan-pelan menghilang. Entah hilang kemana, namun aku merasa nyaman dan tenang sekarang. Tidak ada Papa dan Mama, maupun kakakku yang mungkin tidak akan menemukanku sekarang, atau mungkin akan beberapa hari untuk menemukanku disini. Iya disini. Ditempat nyaman ini.

***

Aku suka menyendiri disini. Tidak ada satupun orang yang bisa mengangguku. Entah itu Papa ataupun Mama, bahkan kakakku yang selalu menemaniku kemana pun ku pergi tak dapat menghubungiku. Aku matikan seluruh ponsel dan smartphone yang ada. Hanya untuk menyendiri saja. Ya aku sendiri.

Di dinding terpampang sebuah lukisan berwarna abu-abu dan membentuk sebulat cahaya yang terang. Aku terkesima. Biasanya tak ada lukisan ini, namun mengapa tiba-tiba seperti muncul begitu saja dihadapanku. Aku tak dapat mengambarkan cahaya itu dengan kata-kata maupun ekpresi apapun. Aku hanya terperangah. Dan membiarkan semua imajinasi liar itu tumbuh didalam otak yang mungkin saja telah beku dan terbenam oleh masa lalu yang sulit untuk dilupakan. Masa lalu yang begitu kelam. Sekelam kopi hitam. Namun, sensasi dari melihat sebuah lukisan bisa saja membuat kopi yang biasanya hitam itu berubah rasa menjadi aroma yang sedap. Seperti perpaduan antara kopi dan kream ataupun susu dan menghasilkan sebuah rasa yang baru yaitu Cappucino.

“Mba, ini Cappucinonya.”

Suara pelayan kafe itu mengagetkanku. Aku terdiam sejenak. Kemudian menata otak yang terhalusinasi oleh sebuah lukisan yang baru saja aku lihat.

“Iya mas. Makasih.”

“Sama-sama mba. Kalau mau pesan lagi, tolong panggil kami ya mba. Saya Alvin.”

“Okay mas.”

Pelayan itu tersenyum lebar kepadaku. Sementara, aku tertarik dengan Cappucino yang telah aku pesan beberapa waktu yang lalu. Rasanya begitu mengoda. Perpaduan antara kopi dan krim yang seimbang atau setara. Tidak ada yang kurang ataupun lebih. Rasanya sama menguatkan. Itulah yang aku suka dari Cappucino ini.

Aku merasakan sensasinya dilidah. Seperti kopi yang memang dipersiapkan untuk orang sepertiku. Orang yang selalu butuh keseimbangan dalam hidup ini. Ah, aku ini memang kurang seimbang apa? Aku ini lulusan terbaik di universitas dengan IPK hampir sempurna yaitu 3,99. Dan akupun juara karate tingkat nasional. Antara otak dan raga tak ada yang salah. Semuanya seimbang. Tapi, kenapa aku selalu sembunyi. Ditempat ini. Apakah yang kurang? Apakah rasa penyesalan itu yang selalu hinggap, dan kemudian berakar menjadi sebuah halusinasi yang selalu hinggap. Aku tak tahu mengapa?

“Ya Ta, kamu ada dimana?”

“Biasa Na, aku kan ngajar ditempat biasa. Kayak ngga tahu aja.”

“Oh iya ya kamu kan assisten dosen yang kaya itu.”

Suara tawa renyah itu datang dari seberang sana.

“Aku tahu Na, dosen itu kaya. Dan aku tahu juga kalau aku ngajar itu karena kedekatan kita.”

“Ta, aku kan tahu semuanya. Dan, aku harap sih kamu ngga bakalan pacaran sama pria beristri kayak pak dosen itu.”

“Rina Fatah. Ya, jelaslah aku ngga bakalan pacaran sama dia.”

“Okelah kalau begitu. Aku percaya sama kamu kok.”

Kemudian pembicaraan itu berakhir. Hanya ada kata bye dan see you again. Otak ini rasanya sulit merekam pembicaraan ini lebih dalam. Jelita. Dia sahabatku namun bermain bara dengan berpacaran dengan dosen beristri. Aku sebagai sahabatnya harus segera mengingatkannya.Harus. Aku tak mau kejadian masa lalu terulang dan berulang kembali. Aku tak mau.

***

Cappucino itu enak dan seimbang. Antara kopi dan krim saling menguatkan rasa. Ya itulah sebuah keseimbangan hidup. Ada yang selingkuh, dan ada yang diselingkuhi. Maka aku harus menyeimbangkan kehidupan ini. Harus.

Aku mengaduk dengan lembut larutan cair itu lagi dan lagi. Namun warna cokelat itu tak kunjung berubah. Hanya cokelat saja. Tak berubah menjadi putih ataupun hitam. Hanya cokelat.

Oh haruskah aku meradang karena warna itu cokelat. Seimbang. Tidak hitam ataupun putih. Ah, begitulah kehidupan. Kadang kita terjebak dalam warna cokelat dan tak bisa kembali lagi menjadi putih dan tak rela untuk menjadi hitam pekat.

***

“Na, kita ketemuan ya di kafe yang enak itu.”

“Okay Ta.”

Aku tersenyum. Inilah saat yang tepat. Jelita harus merasakan kepedihan yang dirasakan oleh istri dosen itu. Aku tak sanggup kalau aku harus menanggung kepedihan itu. Ah, lanjutakan saja. Jelita itu sahabatku, dan dia akan tahu artinya sebuah keseimbangan hidup. Bukan hanya senang, namun harus ada kepedihan hidup, agar dia lebih hidup dan dapat menyeimbangkan sebuah kehidupan.

“Mba, ada apa memanggil saya?”

Alvin, pelayan kafe itu tersenyum lebar kepadaku.

“Begini mas, mas selama ini dekat dengan Jelita kan?”

Alvin, sang pelayan itu agak bingung dengan sebuah pernyataan yang dilontakan dari bibirku ini.

Ada jeda.

Serasa ada getaran dari tubuh Alvin yang sengaja ditularkan kepadaku. Ia tak mau menjawab. Namun sinyal dari tubuhnya menyatakan bahwa ia adalah orang terdekat Jelita selain keluarga dan dirinya. Aku menatap wajah Alvin yang pucat pasi itu dengan tatapan tajam. Aliran darah seakan mendidih. Aku sudah yakin dengan perbuatan yang akan kulakukan.

“Alvin, kan namamu?”

Alvin terdiam. Raut wajahnya seakan menjawab pertanyaanku. Iya aku yakin itu.

“Dan, kamu tahu bahwa Jelita menderita sebuah penyakit?”

Alvin kembali terdiam. Baginya pernyataanku telah memberikan kejutan yang bertubi-tubi.

“Maksud mba, Jelita sakit?”

“Iya, dia mengalami gejala depresi dan kesepian. Bahkan sudah divonis dokter dia gila.”

“Apa? Dia gila?”

“Makanya dia selingkuh sana sini dan bercinta dengan semua pria yang disukainya, termasuk kamu.”

Alvin terdiam. Dia terperanjak. Hampir jatuh namun tanganku berhasil menopang badannya yang agak berat itu.

“Jadi tolong dia  agar bisa sembuh dan biarkan dia sendiri dulu. Jangan ganggu dia.”

Aku kembali dalam posisi duduk. Aku mengalihkan pandangan kesekitar. Hanya beberapa orang saja yang sedang berada di kafe yang nyaman itu.

“Cara menolongnya cuman satu. Kamu harus pura-pura mesra denganku. Setengah jam lagi, Jelita akan kesini. Mau kan?”

Alvin mengangguk dan kemudian berlalu menuju kasa.

Aku tersenyum. Ada rasa bahagia yang tersirat. Namun inilah yang dinamakan sebuah keseimbangan hidup. Ada senang, ada sedih, dan semua larut dalam sebuah cairan kopi dan kream, yaitu cappucino.

***

Jelita turun dari mobil yang diparkir di depan sebuah kafe. Ia akan menemui sahabatnya. Rina. Ia tersenyum, sebelum melihat adegan Rina dan Alvin berangkulan di meja nomor 13.

Jelita menangis. Ia sedih. Hatinya hancur.

***

“Na, kayaknya aku ngga bisa ketemuan.”

“Halo Ta, kamu kenapa sayang?”

“Maaf Na, aku ngelihat kamu didalam kafe bersama Alvin.”

“Alvin siapa?”

“Kamu ngga tahu Na, dia pacarku.”

“Pacar? Maksudmu apa? Bukanya dosen itu pacar kamu?”

“Dosen mana Na. Aku ngga pernah pacaran sama dosen manapun. Kamu itu teman makan teman Na.”

“Ta, sadarlah Ta. Kamu itu sudah hamil. Dan, kamu mengandung anak dosen itu.”

Tidak ada suara lagi dari ponsel.

“Ta, aku mencoba menolongmu Ta. Aku itu sayang kamu juga.”

Ponsel itu putus.

Jelita, kamu itu sudah saatnya merasakan keseimbangan hidup dan menikmati kehidupan selanjutnya. Hidup yang lebih abadi. Aku hanya bisa menolongmu.

***

Jelita memeganggi perutnya. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Baginya hitam adalah hitam bukan putih ataupun abu-abu maupun cokelat seperti yang diharapkan oleh Rina.

Ia memegangi sebuah bercak air. Bukan air sebenarnya. Namun darah segar. Dan, kemudian langit pun menjadi gelap tak terlihat.

***

Hidup itu keseimbangan, Ta. Aku tahu kamu akan bahagia disana. Sekarang istri dosen itu bisa merasakan kebahagian. Sementara kamu akan merasakan kebahagian, setelah sebelumnya mengalami kepedihan.

Bunga-bunga itu beterbangan. Daun-daun yang gugur itu seraya mengantarkan langkahku menuju sebuah perjalanan abadi. Yang seimbang. Seperti rasa kopi dan krim yang seimbang dan menghasilkan segelas Cappucino.

***

“Na, kamu itu sudah sembunyi disini lama sekali. Kamu tahu papa mama sampai khawatir.”

“Aku nyaman disini. Aku juga bermain bersama kakak disini.”

“Rina, kamu tahu kakakmu telah meninggal tiga tahun yang lalu.”

“Tapi, kakak menjagaku dan bermain bersamaku.”

Air mata itu lalu menetes. Sementara aku memandangi sekeliling. Hanya ada batu nisan. Dan batu nisan itu bertuliskan Jelita Fatah.

Teori Kopi (1) : Hitam

photo-1429032021766-c6a53949594f

Suasana kafe ini begitu ramai. Lalu lalang manusia tiada henti menyambangi tempat bernama Kafe “Coffe”. Ada yang bahagia karena lulus ujian skripsi dengan nilai yang sempurna. Ada yang bahagia karena diterima sebagai pacar oleh gebetannya. Ada pula yang dirundung kesedihan karena diberhentikan dari pekerjaan. Ada pula yang ditinggal oleh kekasihnya karena masalah sepele. Ada pula yang datar dan tak bereaksi apa-apa terhadap kehidupan. Baginya kehidupan itu sudah mati setelah ia lahir. Hitam. Kelam.

Parasnya kuyu dan pucat. Kecantikannya hanya terlihat dari bola matanya saja yang utuh hitam dan putih, selebihnya tak terawat dan terjaga dengan make up maupun salon mahal. Baginya berkompromi dengan hidup merupakan hal yang harus ia lakukan sekarang. Jika tidak, ia tak ada harapan untuk melihat lagi mentari esok hari yang sinarnya lembut dan terang.

Andai saja ia duduk di depan Kafe itu, maka ia akan dihantui oleh perasaan yang tak biasa. Baginya aneh untuk sekedar tampil dan duduk dalam pantauan orang-orang disekitar, dan diperhatikan detail dari ujung rambut sampai ujung kaki. Memandang wajahnya dicermin saja, jarang ia lakukan. Bahkan untuk menyentuh wajahnya itu tak akan ia lakukan saat ini. Ia mengutuk wajahnya. Ia mengutuk ciptaan Tuhan yang mulia itu. Ia menanyakan kepada Tuhan, kenapa Tuhan ciptakan wajah dengan paras seperti ini dengan tujuan untuk menghancurkan hidupnya.

Kalau saja ia tak berparas seperti itu, maka ia akan bersyukur. Namun, itulah takdir. Ia harus meratapinya setiap ia harus melihat cermin, mandi, maupun saat dilihat orang.

“Mba, mau nambah kopinya?”

Seorang pelayan kafe kemudian membuyarkan lamunannya.

Tak ada jawaban sesaat. Ia hanya diam terpaku. Kemudian ia menggelengkan kepala. Kemudian pelayan itu pergi. Sementara kopi di atas mejanya itu telah berada diujung gelas.

Lalu ia menyelaminya dirinya kembali. Jari telunjuknya menyentuh wajahnya. Ia merasakan pedihnya hidup. Tak sengaja air itu kemudian jatuh. Bukan kopi maupun air minumnya. Melainkan air mata. Ia menyekanya kemudian. Ada tisu dan sapu tangan. Jarinya kemudian menyapukan sapu tangan yang berwarna ungu itu ke wajahnya. Lagi-lagi harus kewajah. Haruskah kehidupan itu tak dinilai dengan wajah. Atau hilangkan saja wajah yang terkutuk ini.

Kenapa harus wajah ini Tuhan?

Kenapa?

***

Kafe itu kemudian lengang. Hanya tersisa satu orang. Wanita. Menyendiri di depan kafe itu. Wajahnya berseri. Cantik. Memainkan smartphone untuk sekedar berbagi cerita dengan teman-teman gaulnya.

“Tahu nggak? Gue lagi nongkrong dong di kafe terkenal itu?”

“Dimana Ta?”

“Di daerah Sabang?”

“Oh gitu, enak ya tempatnya?”

“Enak banget. So far makanannya enak. Internetnya cepat. Sama tempatnya enak banget buat kumpul.”

Wow that’s a  good place to hang out.”

“Iya banget Na.”

“Kapan-kapan kita nongkrong disana ya.”

“Okay deh. Gue mau cabut pulang.”

Begitulah obrolan Jelita dengan Rina di smartphonenya yang canggih itu.

Jelita memandangi sekeliling. Hanya dirinya. Sebuah cangkir kopi hitam yang pekat. Kemudian smartphone. Kemudian ia memanggil pelayan kafe.

“Mas, minta bill ya?”

“Baik mba.”

Jelita memeriksa kembali tas bawaan yang berisi beberapa buku karya Djenar Mahesa Ayu, Ayu Utami dan Fira Basuki. Kemudian ia memeriksa charger smartphonenya, apakah sudah ia masukan kedalam tas berwarna navy itu.

“Ini mba billingnya. Tadi mba nambah beberapa snack kan ya?”

“Iya mas saya tambah kacang asin dan kemudian cake cokelatnya satu juga.”

“Iya mba, sudah termasuk dalam billing ini.”

Pelayan itu memandangai paras Jelita yang cantik. Sementara, Jelita sibuk mengambil uang dari dompetnya yang bermotif unik dan berajut. Sepertinya Jelita tahu betul membeli barang yang sangat unik itu.

“Ini mas, kembaliannya buat mas aja ya.”

“Terima kasih, mba. Ngomong-ngomong mba sering mampir di sini ya?”

“Iya Mas. Kayaknya mas baru ya. Saya sering mampir akhir-akhir ini. “

“Iya saya baru dua hari ini, mba. Saya Alvin, mba.”

“Gue Jelita Ayunda. Jangan panggil mba lagi ya.”

“Baik mba, eh, Jelita. Hati-hati di jalan ya.”

“Sip mas, eh, Alvin.”

Jelita melintas keluar dari kafe di daerah Sabang itu. Sementara mata Alvin tertuju pada paras Jelita yang cantik dan tak cacat sama sekali.

***

Musim berlalu. Kini mentari sangat hangat menyapa Jelita. Dengan make up yang tipis dan pas dengan wajahnya ia melangkah menuju kafe itu. Dilihatnya lagi kedalam kafe. Ia melihat Alvin melihat kearah luar Kafe.

Jelita kemudian duduk di kursi yang telah Alvin pilih untuknya. Senyum sumringah Alvin menawarkan menu yang ada di kafe itu. Kemudian jelita membalas senyumnya dengan senyum manis.

“Alvin, aku pesan biasa ya?”

“Kopi hitam kan?”

“Iya tepat sekali. Kopi hitam dengan sedikit gula dan tanpa campuran apapun. Aku mau yang hitam pekat.”

“Baik Jelita, akan aku buatkan special untukmu.”

Jelita memandangi keluar. Ia menunggu seseorang. Rina. Sahabatnya yang ia tunggu.

“Rin, kamu sudah di daerah Sabang?”

“Maaf Ta, aku baru berangkat. Semalam aku ngajar sampai malam. Terus harus buat bahan ajar untuk minggu depan juga. Maaf ya Ta. “

“Oh okay, Na. nggak apa-apa. Santai aja kelles.”

“Okay, see you in café.”

“Okay Na.”

Jelita memutuskan ponsel itu. Aroma kopi hitam itu kemudian tercium oleh hidung Jelita. Sejalan dengan aroma itu. Alvin telah tampak di depan matanya dengan senyuman khasnya. Ada lesung pipit. Tampan. Dan sepertinya Jelita menaruh hati.

***

Sebulan berlalu, Jelita dan Alvin telah menjalin kasih. Alvin sering mangantarkan Jelita pulang atau menemai Jelita kalau adaa acara di manapun.

“Alvin sayang, kamu kerja di kafe ya?”

Jelita mengawali perbincangan dengan Alvin dengan panggilan sayang.

“Iya Jelita sayang. Maaf ya aku nggak bisa nemenin kamu ke acara itu.”

“Iya ngga apa-apa kok sayang. Ya udah kamu semangat ya kerjanya.”

“Makasih sayang, kamu juga semangat ya.”

Alvin menaruh ponselnya dalam saku. Ia melihat ke arah Rina yang juga melihat ke arahnya. Alvin berjalan menuju meja Rina.

“Sayang, itu tadi siapa? Jelita ya?”

“Iya, jelita.”

“Kamu harus putusin dia ya. Kamu kan milih aku?”

“Iya, sayang. “

Kemudian Alvin tenggelam dalam bayangannya.

***

Jelita memarkirkan kendaraannya di depan kafe itu. Jelita bergegas menuju arah kafe. Belum sempat menuju arah kafe. Ia melihat Rina dan Alvin tengah berangkulan di meja nomor 13. Meja yang biasa ia pakai.

“Sayang, kamu dimana?”

“Jelita sayang, aku lagi off, nggak di kafe hari ini.”

“Oh gitu ya, aku juga lagi off di rumah kok. Kamu sakit ya?”

“Iya aku agak sakit ini. Kamu jaga kesehatan juga ya.”

“Iya sayang. Get well soon ya.”

Jelita mematikan ponsel itu. Tak sengaja air matanya mengalir deras. Ia kembali menuju ke mobilnya. Ia membatalkan niatnya untuk ke kafe itu.

***

Tega sekali. Hanya karena parasnya yang kalah cantik. Dan karena keluguan hatinya. Ia telah dipermainkan oleh sahabat dan pacarnya sendiri.

Ia meminum kopi hitam yang pahit itu kembali. Ia meminta tambahan secangkir kopi hitam pekat dengan sedikit gula, untuk sekedar menawarkan rasa sakit dalam hati itu.

Ia meminum kopi hitam itu dengan perasaan yang bercampur-campur.

Antara kelam, hitam, tak berwarna putih, tak berperasaan, dan tak berwarna. Hanya hitam, kelam. Ia memandangi sekeliling. Dan hanya ada secangkir kopi hitam, dirinya dan sebuah senyuman dari pelayan kafe. Ia menaruh uang. Dan dengan cepat ia keluar dari kafe. Ia  masih merasakan pahitnya kopi hitam yang ia minum tadi. Kemudian ia berlari. Hilang. Gelap. Kelam.

***