Kenangan

“ Huh!” Orang itu mengucapkan kata sambil menatap kebawah gedung . Sementara lalu lalang kendaraan masih menemaninya.

“ Kenapa?”

“Gak tau kenapa, tapi gue selalu kayak gini terus. Gak maju, tapi malah mundur pastinya,” Dia mendesah panjang. Seakan beban beratnya masih hinggap di benaknya.

“ Gue pulang ya. Choky dah jemput.”

“ Oke, ati-ati ya.”

Dia menatap lampu yang mulai redup di jalanan. Secangkir kopi dan rokok mengepul menemaninya. Sekilas kenangan muncul di benaknya. kenangan yang tak mungkin ia lupakan. kenangan yang sungguh menyiksa batin.

Didekat orang yang dia sukai adalah saat terindah. namun, segalanya berubah, ketika sebuah undangan merah jambu itu tergeletak di bawah pintu kamar.

Dia habiskan kopi terakhir, dan bergegas keluar dari Cafe yang tak jauh dari kantornya.

—-

“Tuhan, andaikan kau pertemuakan aku dengannya, aku sungguh tak sanggup. Aku sungguh mencintainya. Namun, rasanya untuk kebahagiannya, aku rela untuk memendam semua rasa yang ada, dan melupakan seluruh kenangan yang masih ada dikepala, ” Dia mengeluh panjang. Air mata yang tak tertahan membanjiri pipinya, membahashi undangan merah jambu yang sudah lapuk dimakan usia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s