Wanita dan Bunga

photo-1421217802296-7a0b5e2abef2

Langit itu bergelayut dan mendung. Sementara lalu lalang orang yang penuh dengan pikiran mereka itu masih terjadi siang itu. Yana masih menunggu seseorang di sudut sebuah cafe yang tak penuh dan juga tak sepi. sedang saja cafe itu. tempatnya memang enak untruk bertemu dengan seseorang dan bercengkerma.

Yana memperhatikan sekelilingnya. masih belum muncul juga orang yang ditunggunya.

Ia tertuju pada pria berkaos hitam dan menjijing sebuah tas berwarna senada dengan warna kaosnya. Pria itu berhenti tepat di depan cafe. Ia mengeluarkan sebatan rokok dan korek gas. Sebelum membakar sebatang rokok itu, ia memilinnya dan memainkan sebentar. Ia melakukan sebuah ritual kecil sebelum menikmati sebatang rokok tersebut.

Yana terhenti sejenak. Ia masih tertuju pada pria itu. Yana berkerut. sepertinya pria ini pernah ia kenal, tapi dimana dan kapan ia mengenal pria itu? Yana berusaha untuk menepis pertanyaan itu. Ia kembali melihat kedalam cafe.

“Halo sayang, maaf ya aku ngga bisa ketemuan sekarang. Mendadak bosku telepon dan disuruh kekantor secepatnya. Maaf ya sayang.”

Yana tertunduk lesu. Matanya mulai berbayang memandang sekitar cafe yang mulai gelap namun belum turun hujan.

Tak sadar Yana mulai mencari sosok pria yang berada di luar. Ia tak menemukan sosok itu. Kemudian ia mulai berkutat dengan sebuah tablet. tak sadar ia sedang diperhatikan seseorang dari disudut yang lain.

“ Sayang, kita ketemuan di cafe biasanya aja gimana?”

“ Oke, aku juga free hari ini.”

“ Oke, aku tunggu ya.”

Yana terpikat oleh tablet yang meyuguhkan beberapa permainan yang membuatnya luput dari setengah keramaian di cafe itu. sayup-sayup ter dengar suara orang bercengkerama, tertawa, terdiam dan ngobrol. semuanya menjadi satu dalam sebuah cafe.

Sosok pria yang berada disudut itu pun terpaku pada sebuah tablet. Ia memperhatikan sekitar cafe. sepertinya ia juga menunggu seseorang.

“Sayang!”

Yana yang tengah bermain dengan tabletnya terusik dengan sebuah suara sopran milik wanita yang berada di sudut berlawanan.

“ Kamu sudah lama?”

Yana kembali tergugah. Semula ia tak menghiraukan, namun suara itu terdengar sangat ia kenal.

“ Aku pesan minuman dulu ya.”

Yana tak menunda lagi. Suara itu sangat ia kenal. Ia menyapu pandangan keseluruh cafe yang tengah ramai itu.

Disudut berlawanan ia menemukan sosok wanita dengan kaos berwarna hitam bertuliskan flower. Wanita itu tengah duduk dengan sosok pria berkaos hitam.

Wanita itu kemudian merangkul mesra dan bergelayutan di tangan pria berkaos hitam.

“ Sayang, makasih yang kado istimewanya. Aku suka kaosnya. Dan aku suka flower itu.”

Suara wanita itu terdengar di balik ponsel Yana.

“ Sama-sama sayang.”

Hari itu ulang tahun ke-29 Evita. Pujaaan hati Ayana.

Hujan itu deras mengalir diluar cafe. di sebuah jalan yang sepi itu berdiri sesosok wanita. Ia berdiri dengan pandangan kosong.

“Evi, kenapa kamu disini?”

Pemilik nama Evi itu terdiam.

“Evi, katanya kamu ada tugas kantor?”

Ia terdiam.

“Evi!”

Yana juga terdiam. kemudian pergi.

Hujan itu tetap mengalir. Sosok wanita itu masih berada di jalanan yang sepi. kemudian ia memandagi sebuah tanaman bunga. ia terpaku. ia tertawa.

“Bunga, kamu masih setia menemaniku kan?”

Ia bertanya pada bunga yang basah karena hujan.

Malamku Telah Hilang

mW95rWmYSRe4nTMVaRaW_French-Mountain

Malam ku telah hilang

dari bayang-bayang kelam

masa merendahkan diri

dibalik jiwa-jiwa penipu

Malam ku telah hilang

dari bayang-bayang wajah kejam

penuh kelam dan cacian

masa merendahkan jiwa

dibalik pintu-pintu sunyi

Malam ku telah hilang

dari bayang-bayang asa yang nista

masa merendahkan mata yang buta

dibalik batin-batin yang dahaga

Malam-malam ku telah hilang

dibalik senyum dan mimpi

serta jiwa yang melembutkan semesta

Pria Penunggu Hujan

photo-1430932670556-d0002ea51b33

Bel itu berbunyi nyaring. Sangat nyaring. Bahkan aku tak sempat mengelaknya dan terpaksa harus bangun. Bel itu adalah alarm yang sengaja aku pasang jam 5 pagi.

Hari ini pekerjaan baru menanti. Sebagai IT sebuah perusahaan Jepang yang terkenal di Dunia, harus ada konsekuensi, yaitu sesuatu yang harus kukorbankan. Waktu, adalah satu dari sekian hal yang harus kukorbankan.

Jalanan masih lengang, saat kuberjalan menyusuri gedung-gedung pencakar langit di kawasan padat Jakarta. Aku memincingkan kearah jam tangan berwarna emas dan perak pemberian orang tuaku. Hah, masih jam 7, terang saja jalanan ini masih lengang.

Kulihat langit, hitam mencekam. Tanda akan turun hujan. Kuayunkan langkah merapat ke sebuah halte. Aku berteduh sebentar. Padahal gedungku hanya beberapa ratus meter lagi jaraknya dari halte itu. Namun, aku ingin berteduh sebentar karena nampaknya pasuka air sudah turun ke Bumi.

Ada jeda. Aku terdiam sebentar. Aku memandang seseorang yang sedang menunggu hujan. Wajahnya sangat natural, sangat alamiah, tanpa make-up dan perhiasan, namun tetap cantik. Aku memandangnya sejenak. Dia pun tak sengaja melihat kearahku.

Namun, moment itu hanya sebentar. Beberapa detik, wanita itu berajak pergi dengan bus yang ditunggunya. Aku hanya sempat memandang dengan jelas kearah tas keranjang bawaanya bertuliskan BLOK M. Mungkin saja dia berasal dari Blok M, atau pernah berbelanja di Blok M, atau punya saudara di Blok M. Segala kemungkinan tetap ada.

Didalam kantor aku merasakan sensasi berbeda. Aku tak konsen dengan kerjaan. Terbayang dipikiranku hanya sebuah momentum tadi. Begitu jelas kecantikannya. Namun bagaimana mungkin aku bisa menemukannya lagi.
—-

Pagi yang sama, dengan suasana yang hampir sama, langit yang mendung, aku menunggunya di halte yang sama. Namun, wanita itu tak datang. Hanya beberapa orang yang sedang menunggu bus.

Hari berikutnya, aku tak menemukannya lagi. Hanya beberapa orang tak kukenal. Dan, aku berlalu.

Namun, tiba-tiba seseorang berjalan kearahku dengan menjinjing tas bertuliskan Blok M. aku bergegas menghampirinya. Namun, wanita itu ternyata lebih tua. Sangat tua.

“Ibu, dapat darimana tas itu?” aku bertanya

“Tas ini ibu beli di jatinegara.”

Pupus sudah harapanku saat ini. Namun, aku berkeyakinan akan menemukannya suatu saat nanti.
—-

Hari berganti hari. Tak terasa hampir sepuluh tahun kejadian itu masih terlintas. Aku masih seperti dulu, masih menunggunya di halte, dan saat ini hujan rintik-rintik berderai. Aku duduk seperti biasanya. Tiba-tiba sebuah bus berhenti, dan dua orang turun. Satu pria dan satu lagi wanita. Dan alangkah terkejutnya, aku menemukan wanita itu bergandeng mesra dengan pria itu.

Di bawah hujan rintik-rintik, dan dihalte yang sama, penantianku sia-sia. Namun, suatu saat aku yakin jodoh yang disiapka Tuhan untukku.

Koin Emas

Masih disini, di bilik yang sepi. Menunggu malam berganti pagi. Berteman bulan dan bintang yang masih bersinar terang. Aku memutar-mutar koin emas itu. Koin emas bergambar menara. Seseorang telah memberiku sebulan yang lalu.

“Halo?”

“Aku masih di luar.”

“Aku tak mau pulang. Biarkan aku disini.”

Ponsel itu mati dengan sendirinya. Aku kembali memaikan koin emas bergambar menara itu. Sesekali aku memandang keluar. Tak ku lihat lagi lalu lalang orang-orang. Hanya berteman pejaja minuman hangat dan kopi.

***

Aku berdiri di keramaian orang yangmenunggu kereta.  Aku pun sama dengan mereka menunggu kereta yang akan mengajaku ke dunia baru. Suasana stasiun sama saja dengan sepuluh tahun yang lalu. Tak berubah, hanya ada penambahan beberapa ornamen saja. Oranamen yang mempercantik tiang-tiang yang kokoh.

Aku menyapu pandangan ke kanan dan ke kiri. Aku hanya memastikan saja, apakah aku dalam barisan yang benar. Aku juga memastikan apakah tiket kereta masih ada di tas. Aku mengambil tiket di dalam tas. Sesuatu terjatuh. Koin emas jatuh terlempar beberapa meter. Aku berusaha memunggutnya. Tanganku berusaha mengapai koin emas. Hampir aku meraihnya. Tapi, koin itu telah berada di gengaman orang. Aku melihat kearahnya. Aku terdiam. Orang yang mendapatkan koin emas itu terdiam. Beku. Aku mencoba menatapnya. Dia pun menatapku. Tatapannya menusuk relung hati.

“Aku kembali untukmu.”

Aku membisu.

“Aku tahu sudah terlambat. Tapi, aku mohon…..”

Aku berjalan menjauh.

“Aku berjanji akan menceraikan dia. Aku mohooon!”

Aku tak menghiraukan Dia. Aku berjalan cepat. Namun, dia tak mengejarku. Aku tetap berjalan.

“Kau masih menyimpang koin ini. Untuk apa?” Dia berteriak.

Aku terhenti. Aku menangis.

“Aku janji akan membahagiakanmu.”

Aku berjalan cepat. Kereta itu datang. Aku segera masuk.

“Aku mohon.” Dia berlari menuju kereta.

***

Aku memandang pemandangan dari jendela kereta. kereta itu melaju kencang. Koin emas bergambar menara itu kini ku gengam. Maafkan aku, aku tak bisa memilih dia. Sesaat sebelum kereta melaju dia melemparkan koin itu kejendela. Aku menangkapnya.

“Maaf, kau bukan pilihanku. Aku memutusakan untuk hidup di Dunia baru.”

Kereta itu melaju. Dia terdiam. Dari belakang muncul sosok lain yang mendekapnya dari belakang. Aku memandang mereka berdua dengan senyum. Namun, tak kuasa air mata pun jatuh. Biarlah ini menjadi kenangan. Koin emas ini akan terus ku simpan.

***